asma dewi
BERITA BERITA UMUM Info Terbaru

Asma Dewi dan Postingan Kontroversialnya

Asma Dewi dan Postingan Kontroversialnya Yang Membuatnya Diciduk Polisi

Asma Dewi – Kuasa hukum tersangka kasus ujaran kebencian Asma Dewi. Djudju Purwantoro mengungkapkan, ada tiga postingan kontroversial di medsos yang menjadi dasar penangkapan kliennya. Ketiganya diunggah oleh Asma Dewi sendiri pada tahun 2016.

“Pertama, pernah dengan vaksin virus campak rubela dari Cina? Dia katakan ya itulah kalau vaksin atau virus dari Cina, hanya Cinta itu saja yang dipersoalkan,” ujar Djudju.

Potingan kontroversialnya yang kedua adalah pernyataan Asma Dewi yang mengomentari Mentan Amran Sulaiman soal harga daging yang mahal.

“Kedua, pernah dengan Mentan katakan harga dagin mahal. Kalau merasa mahal, makan jeroan saja, pernah dengar? Yang nyatakan bukan Bu Asma, tapi Mentan, kok masyarakat makan jeroan, kenapa enggak menterinya makan jeroan?”.

Potingannya yang ketiga adalah ia yang kembali menyinggung Cina.

“Ada tulisan Sansekerta, postingannya negara Singapura diajarkan Sansekerta. Kenapa di Indonesia diajarkan bahasa Cina, Cina lagi,” ujarnya.

Menurut Djudju, ketiga postingan itu yang menjadi dasar sangkaan polisi. Djudju juga menegaskan tidak satu pun postingan terkait sindikat penyebar kebencian Seracen.

Kuasa hukum Asma Dewi akan melakukan pra-peradilan karena menilai penankapan kliennya tidak sesuai dengan prosedur.

“Pertama beberapa aparat lompati pagar, mereka ada sekitar 10 orang. Kemudian setelah lompat pagar, sekering listrik mati hidupkan. Kemudian panggil Ibu, belum siap pakaian lengkap untuk segera keluar,” jelas Djudju.

Baca Juga : Penghina Istri Jokowi Ternyata Sosok Yang Religius

Sebelumnya, Presiden Tamasya Al-Maidah mengakui tersangka merupakan bagian alumni gerakan 212. Namun demikian, Asma bukanlah Koordinator Tamasya Al-Maidah.

“Kami kenal dengan Ibu Asma. Sebagai alumni 212, kita sering ketemu dalam Aksi Bela Islam,” ujar mantan Presidium Alumni 212 Ansufri Sambo.

Sambo mengatakan, penangkapan ibu Asma sebagai bentuk kriminalisasi yang dilakukan rezim pemerintahan saat ini.

“Ini merupakan upaya pembungkaman terhadap aktivis yang beruapa kritis terhadap kebijakan rezim Jokowi, yang kami anggap pro cukong, permisif dengan PKI, dan diskriminatif terhadap umat Islam.” ucap Sambo.

Sambo menilai, apa yang disampaikan kerabatnya ini dalam media sosialnya hanya berisi kritik terhadap pemerintah saat ini. Tidak ada unsur kebencian yang disebar.

“Yang beliau sampaikan dimedia sosial hanya protes dan kritik terhadap bentuk kezaliman di negeri ini,” kata dia.

Selain itu, penangkapan Ibu Asma adalah bentuk diskriminasi hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *